Gempa di Kerajaan Zuckerberg! Bos Besar Meta India 'Membelot' ke Pelukan OpenAI Saat Krisis Regulasi Memuncak
Langkah mengejutkan datang dari petinggi Meta, Sandhya Devanathan, yang memutuskan untuk meninggalkan takhta kepemimpinannya demi bergabung dengan OpenAI, sang raksasa di balik ChatGPT. Kepindahan ini terjadi di tengah badai tekanan regulasi dan pengawasan ketat yang membayangi Meta di pasar India, menandakan pergeseran kekuatan besar di industri teknologi global.
NEWSJABAR.ID - Kabar mengejutkan mengguncang jagat teknologi global setelah Sandhya Devanathan, Wakil Presiden Meta untuk wilayah India dan Asia Tenggara, resmi mengundurkan diri untuk berlabuh ke OpenAI. Devanathan, yang telah mengabdi lebih dari satu dekade di bawah kepemimpinan Mark Zuckerberg, akan mengisi posisi strategis di OpenAI dengan basis operasional di Singapura. Ia akan melaporkan tugasnya langsung kepada Managing Director OpenAI Asia-Pasifik, Kiran Mani.
Di bawah bendera OpenAI, Devanathan mengemban misi berat untuk memimpin pertumbuhan konsumen, adopsi perusahaan, hingga urusan kemitraan dan keterlibatan regulasi di wilayah Asia Tenggara dan Australia. Langkah berani ini diambil hanya berselang beberapa hari setelah OpenAI merekrut mantan bos Uber India, Prabhjeet Singh, untuk memimpin operasi mereka di pasar India yang merupakan wilayah pertumbuhan tercepat di luar Amerika Serikat.
Pelarian dari Tekanan Berat Meta?
Kepergian Devanathan memicu spekulasi liar, mengingat Meta tengah berada di bawah radar pengawasan ketat otoritas India. Perusahaan induk Facebook dan Instagram ini baru saja menghadapi rentetan masalah serius, mulai dari isu keamanan daring hingga moderasi konten yang dianggap bermasalah. Belum lama ini, Meta bahkan harus melayangkan permohonan maaf resmi kepada pemerintah India setelah sistem mereka secara keliru membatasi unggahan Perdana Menteri Narendra Modi.
Tak hanya itu, New Delhi juga menyuarakan kekhawatiran mendalam terkait konten ilegal yang melibatkan eksploitasi anak di platform milik Meta. Meskipun pihak Meta mengeklaim telah menghapus ratusan ribu akun yang melanggar aturan di India dalam kurun waktu enam bulan terakhir, tekanan politik dan publik tampaknya terus menekan para eksekutif puncaknya.
Ambisi Global OpenAI di Asia-Pasifik
Di sisi lain, teknologi kecerdasan buatan (AI) yang digawangi Sam Altman terus melebarkan sayapnya secara agresif. OpenAI tercatat telah membuka kantor cabang di berbagai kota besar seperti Singapura, Tokyo, Seoul, Sydney, hingga Delhi dalam dua tahun terakhir. Perekrutan talenta kelas kakap seperti Devanathan dan Singh menunjukkan ambisi mereka untuk mendominasi pasar bisnis AI di kawasan timur.
Setelah ditinggal Devanathan, kendali operasional Meta di India kini akan berada di bawah tanggung jawab Managing Director Arun Srinivas, yang kini akan melapor langsung kepada Benjamin Joe, Wakil Presiden Meta untuk Asia-Pasifik. Transisi kepemimpinan ini akan menjadi ujian besar bagi Meta dalam menjaga stabilitas di tengah gencarnya persaingan talenta di industri startup dan raksasa teknologi lainnya.
Sandhya Devanathan sendiri bergabung dengan Meta sejak tahun 2016 dan sempat memegang kendali atas bisnis gaming di Asia Pasifik sebelum akhirnya didapuk menjadi ujung tombak Meta di India dan Asia Tenggara tahun lalu. Kini, ia siap menulis babak baru dalam kariernya di garis depan revolusi kecerdasan buatan.
