Guncangan Hebat di New York! Kursi PBB Mendadak Kosong Melompong Saat Delegasi Dunia Boikot Pidato Pemimpin Tel Aviv, Siapa Saja yang Bertahan?

Sidang Majelis Umum PBB mendadak tegang ketika puluhan delegasi negara, termasuk barisan negara-negara Muslim, kompak melakukan aksi walk-out massal sesaat setelah Perdana Menteri Israel naik ke podium, menyisakan pemandangan dramatis berupa deretan kursi kosong sebagai bentuk protes keras terhadap aksi militer di Gaza dan Lebanon.

NEWSJABAR.ID - Sebuah panggung diplomasi internasional berubah menjadi arena unjuk rasa tanpa suara ketika puluhan delegasi tingkat dunia memutuskan untuk angkat kaki secara serentak dari ruang Sidang Majelis Umum PBB. Aksi protes massal yang sangat dramatis ini terjadi tepat saat Benjamin Netanyahu bersiap menyampaikan pidatonya di hadapan dunia. Langkah ini diambil sebagai respons keras atas eskalasi militer yang terus membara di kawasan Timur Tengah, khususnya di Gaza dan Lebanon.

Boikot Massal: Ruangan Sidang Mendadak Sepi

Ketika Netanyahu mulai melangkah mendekati podium utama, gelombang protes langsung terasa. Satu per satu diplomat dari berbagai belahan dunia berdiri meninggalkan kursi mereka. Diperkirakan hampir 70 negara memilih untuk mengosongkan barisan kursi mereka atau menyisakan perwakilan tingkat rendah yang pasif selama sesi tersebut berlangsung dalam agenda sidang umum PBB.

Negara-negara yang secara terang-terangan memimpin aksi pengosongan ruangan ini didominasi oleh blok Timur Tengah dan negara Muslim utama seperti Indonesia, Malaysia, Arab Saudi, Turki, Iran, Qatar, Mesir, dan Yordania. Tidak hanya mereka, negara-negara dari kawasan lain seperti Spanyol, Brasil, Kuba, hingga beberapa delegasi dari benua Afrika juga ikut menyuarakan penolakan lewat aksi boikot yang memicu sorotan tajam kamera media internasional.

Sikap Berbeda di Tengah Ketegangan Global

Meski sebagian besar negara memilih untuk keluar ruangan sebagai simbol perlawanan terhadap kebijakan militer Israel, dinamika di dalam gedung PBB menunjukkan realitas lain. Terdapat beberapa negara yang tetap mempertahankan kehadiran diplomat mereka di dalam ruangan. Langkah mempertahankan representasi ini sering kali dikaitkan dengan strategi diplomasi internasional yang memilih untuk tetap mendengar secara langsung guna menentukan langkah negosiasi atau respons resmi berikutnya.

Perbedaan sikap ini memperlihatkan betapa rumitnya konstelasi politik global saat ini. Sebagian negara menganggap aksi angkat kaki sebagai satu-satunya cara memberikan sanksi moral yang nyata di panggung multilateral, sementara sebagian kecil lainnya menilai kehadiran fisik tetap diperlukan untuk menjaga saluran komunikasi diplomatik tetap terbuka, sekecil apa pun peluangnya.



Disclaimer: Artikel ini disadur dari sumber international.sindonews.com tanpa mengubah fakta dari artikel aslinya.
Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Guncangan Hebat di New York! Kursi PBB Mendadak Kosong Melompong Saat Delegasi Dunia Boikot Pidato Pemimpin Tel Aviv, Siapa Saja yang Bertahan?
  • Guncangan Hebat di New York! Kursi PBB Mendadak Kosong Melompong Saat Delegasi Dunia Boikot Pidato Pemimpin Tel Aviv, Siapa Saja yang Bertahan?
  • Guncangan Hebat di New York! Kursi PBB Mendadak Kosong Melompong Saat Delegasi Dunia Boikot Pidato Pemimpin Tel Aviv, Siapa Saja yang Bertahan?
  • Guncangan Hebat di New York! Kursi PBB Mendadak Kosong Melompong Saat Delegasi Dunia Boikot Pidato Pemimpin Tel Aviv, Siapa Saja yang Bertahan?
  • Guncangan Hebat di New York! Kursi PBB Mendadak Kosong Melompong Saat Delegasi Dunia Boikot Pidato Pemimpin Tel Aviv, Siapa Saja yang Bertahan?
  • Guncangan Hebat di New York! Kursi PBB Mendadak Kosong Melompong Saat Delegasi Dunia Boikot Pidato Pemimpin Tel Aviv, Siapa Saja yang Bertahan?