Misteri Anak Krakatau Menemui Titik Terang: Temuan Jasad di Bengkulu Picu Desakan Operasi Penyelamatan 5 Jurnalis Dibuka Kembali!
Pewarta Foto Indonesia (PFI) secara resmi mendesak Basarnas dan tim SAR gabungan untuk segera mengaktifkan kembali operasi pencarian lima jurnalis beserta kru kapal yang hilang misterius di perairan Selat Sunda sejak awal September lalu, menyusul ditemukannya petunjuk krusial berupa jasad salah satu anak buah kapal di Pulau Enggano, Bengkulu.
NEWSJABAR.ID - Harapan besar kini kembali membubung di tengah ketidakpastian nasib lima jurnalis yang hilang saat mendokumentasikan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Organisasi profesi Pewarta Foto Indonesia (PFI) secara tegas menuntut agar Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) bersama unsur TNI dan Polri kembali mengerahkan kekuatan penuh guna menyisir wilayah perairan.
Desakan keras ini muncul bukan tanpa alasan. Sebuah titik terang baru saja terkuak setelah tim forensik mengonfirmasi identitas jasad yang terdampar di Pulau Enggano, Bengkulu Utara. Berdasarkan hasil uji DNA yang valid, jasad tersebut dipastikan merupakan Surakman (60), salah satu anak buah kapal (ABK) dari KM Arupadatu—kapal yang ditumpangi oleh para jurnalis sebelum akhirnya putus kontak pada 7 September silam.
Komitmen SAR Dipertanyakan: PFI Tuntut Janji Negara
Ketua Umum PFI Pusat, Dwi Pambudo, menegaskan bahwa penemuan jasad Surakman di Bengkulu adalah bukti autentik baru yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Jalur hanyutnya korban mengindikasikan adanya pergeseran arus dari Selat Sunda menuju Samudra Hindia bagian barat, sehingga wilayah pencarian harus segera dipetakan ulang.
"Atas dasar penemuan bukti baru ini, kami meminta dengan sangat agar operasi pencarian gabungan segera dibuka kembali secara intensif," ujar Dwi Pambudo dalam pernyataan tertulisnya. PFI mengingatkan komitmen yang pernah disepakati pihak SAR saat menutup operasi pekan lalu, di mana mereka berjanji akan langsung turun tangan kembali jika ditemukan tanda-tanda baru mengenai keberadaan para korban.
Pihak keluarga dan rekan-rekan sejawat korban mengaku belum kehilangan harapan sedikit pun. Mereka menuntut kehadiran negara secara maksimal dalam mengusut tuntas tragedi ini. "Waktu sangat berharga, dan setiap detiknya berarti bagi keselamatan lima rekan jurnalis kami serta dua kru kapal lainnya yang masih belum diketahui rimbanya," tambah Dwi dengan nada penuh penekanan.
Kronologi Temuan Jasad dan Identifikasi DNA
Sebelumnya, misteri hilangnya rombongan peliput ini sempat menemui jalan buntu hingga ditemukannya sesosok mayat tanpa identitas di kawasan Pulau Enggano pada Sabtu (12/9). Penemuan ini segera dikoordinasikan oleh jajaran Polda Banten dan Polda Bengkulu guna mencocokkan data antemortem serta posmortem dari keluarga delapan manifes kapal.
Kapolda Banten, Irjen Hengki, membenarkan adanya kecocokan genetika tersebut. "Pada hari kelima pencarian intensif sebelumnya, kami menerima laporan penemuan jenazah 'Mr. X' di Bengkulu Utara. Setelah melalui proses identifikasi mendalam, DNA korban dinyatakan cocok 100 persen dengan Surakman, ABK KM Arupadatu," jelas Irjen Hengki dalam konferensi pers resminya.
Dengan adanya kepastian hukum dan sains ini, publik kini menunggu respons cepat dari pemerintah dan tim penyelamat untuk tidak membiarkan nasib para pahlawan informasi terombang-ambing di lautan lepas tanpa kepastian.