Misteri Selat Sunda: Temuan Pelampung Ternyata Salah Sasaran, Di mana Kapal Rombongan Jurnalis?
Polda Banten menegaskan bahwa rompi keselamatan yang ditemukan oleh tim pencari di perairan Anyer sama sekali bukan berasal dari kapal Arupadhatu 1 yang mengangkut rombongan jurnalis yang hilang. Di tengah ketidakpastian yang kian mencekam pada hari keempat pencarian, misteri hilangnya delapan nyawa di jalur laut Selat Sunda ini masih belum menemukan titik terang.
NEWSJABAR.ID - Teka-teki hilangnya kapal motor Arupadhatu 1 yang membawa rombongan jurnalis di kawasan perairan Selat Sunda kembali menemui jalan buntu. Harapan sempat membubung ketika tim pencari menemukan sebuah rompi pelampung, namun pihak kepolisian kini memastikan bahwa barang tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan kapal yang sedang dicari.
Kapolda Banten Irjen Hengki menegaskan, kesimpulan ini didapat setelah penyidik melakukan interogasi mendalam terhadap Sandi selaku pemilik armada. Sandi, yang mengelola kapal Arupadhatu 1 dan Arupadhatu 2, menyatakan dengan tegas bahwa kapalnya tidak pernah menyediakan atau menggunakan jenis jaket keselamatan seperti yang ditemukan oleh petugas di lapangan.
"Berdasarkan pemeriksaan langsung terhadap pemilik kapal, armada miliknya tidak dibekali dengan tipe pelampung yang ditemukan tersebut. Jadi, bisa dipastikan pelampung itu bukan milik kapal Arupadhatu 1 yang hingga detik ini masih lenyap tanpa jejak," ungkap Irjen Hengki kepada para wartawan.
Upaya Pencarian Tanpa Henti di Jalur Laut Banten
Sebelumnya, rompi pelampung misterius tersebut dievakuasi oleh awak Kapal Angkatan Laut (KAL) Anyer I-3-64 Lanal Banten di wilayah perairan dekat Anyer. Penemuan ini sempat diduga menjadi petunjuk awal keberadaan kapal, sebelum akhirnya dibantah oleh pihak berwenang.
Meskipun petunjuk tersebut patah, aparat gabungan dari berbagai unsur tidak menurunkan intensitas operasi penyelamatan. Polda Banten bersama Basarnas dan instansi terkait terus menyisir area yang telah dipetakan secara ketat.
"Hingga memasuki hari keempat ini, tim SAR gabungan masih terus melakukan pemantauan dan penyisiran langsung di lokasi kejadian. Kami membagi area operasi ke dalam beberapa sektor strategis demi memaksimalkan pencarian," tambah Hengki.
Misi Liputan Berujung Petaka
Peristiwa mencekam ini bermula ketika sebuah speed boat yang mengangkut lima orang jurnalis dilaporkan hilang kontak di perairan Kabupaten Pandeglang. Sedianya, rombongan tersebut tengah dalam perjalanan untuk mendokumentasikan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau pada Selasa (8/9).
Berdasarkan data dari Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, total ada delapan orang di dalam kapal nahas tersebut. Mereka terdiri dari dua kru kapal, seorang pemandu jalan, serta lima orang pekerja media nasional.
Adapun daftar manifes penumpang yang berada di dalam kapal tersebut meliputi Warta (55) yang bertindak sebagai nakhoda kapal, Surakman (60) sebagai anak buah kapal, dan Heriyanto (49) selaku pemandu wisata. Sementara itu, lima jurnalis yang hingga kini nasibnya masih misterius adalah M Bagus Khoirunnas, Ari Basuki, Yudhis, Daus, dan Donal selaku pewarta lepas. Doa dan harapan terbaik terus mengalir dari seluruh penjuru negeri agar seluruh korban dapat segera ditemukan dalam kondisi selamat.