Penjarahan Hijau di Tepi Barat: Buldozer Militer Lumat Habis Kebun Zaitun Palestina Jelang Musim Panen Raya
Aksi keji terekam di Tepi Barat setelah militer menggunakan buldozer raksasa untuk meratakan ribuan pohon zaitun milik warga Palestina di dekat Ramallah, hanya beberapa minggu sebelum musim panen raya dimulai. Langkah ini dituding sebagai upaya sistematis untuk melumpuhkan ekonomi warga lokal yang bergantung penuh pada hasil bumi historis tersebut.
NEWSJABAR.ID - Ketegangan di wilayah pendudukan Tepi Barat kembali memuncak setelah armada buldozer militer bergerak merangsek ke desa Deir Nidham, dekat Ramallah. Tanpa belas kasihan, alat-alat berat tersebut mencabut dan melumat habis barisan pohon zaitun yang siap panen, menyisakan puing-puing hijau di atas tanah yang telah digarap turun-temurun oleh keluarga Palestina. Tindakan sepihak ini memperpanjang catatan kelam konflik Israel Palestina yang terus memakan korban materiil warga sipil.
Abd Alfattah Tamimi, salah seorang petani sekaligus pemilik lahan yang hancur, mengungkapkan rasa pilu sekaligus geramnya saat menyaksikan tanah warisan keluarganya rata dengan tanah. Menurutnya, penghancuran yang berlangsung selama dua hari berturut-turut sejak awal pekan ini menyasar seluruh tanaman zaitun miliknya serta milik para tetangga sekitar. "Mereka tidak peduli pada siapa pun, tetapi Tuhan ada di atas sana, dan kami akan tetap bertahan di sini dengan jiwa kami. Mereka mencabutnya, dan kami akan menanamnya kembali," tegasnya dengan penuh keyakinan.
Petani lainnya, Nather Tamimi, menegaskan bahwa waktu penghancuran ini sengaja dirancang untuk memberikan pukulan maksimal. ekonomi Palestina di sektor pertanian sangat bergantung pada panen zaitun tahunan yang biasanya dimulai pada bulan Oktober. Keluarga Nather sendiri biasanya mampu memproduksi sekitar 120 drum minyak zaitun berkualitas tinggi setiap tahunnya dari lahan tersebut, yang kini telah disulap menjadi tanah tandus.
Penghancuran ini tidak hanya menyasar area perkebunan utama. Pasukan keamanan bahkan dilaporkan mencabut segala jenis pohon pelindung yang tumbuh di sela-sela pemukiman warga di Tepi Barat, menciptakan teror psikologis tersendiri bagi komunitas setempat. Langkah pembersihan lahan ini sering kali diklaim demi alasan keamanan taktis, namun warga sipil melihatnya sebagai upaya sistematis untuk memutus ikatan sejarah mereka dengan tanah air.
Lembaga hak asasi manusia mengecam keras aksi ini, menyebutnya sebagai bentuk sabotase ekonomi yang terstruktur. Pohon zaitun bukan sekadar komoditas komersial, melainkan lambang keteguhan dan eksistensi bangsa Palestina. Data dari otoritas setempat menunjukkan bahwa aksi perusakan lingkungan agraris sepanjang bulan lalu saja telah berdampak pada hilangnya lebih dari 21.000 pohon produktif, sebuah kerugian masif di tengah keterbatasan ekonomi yang kian menghimpit.