Sinyal Kemanusiaan Menembus Reruntuhan: Air Mata Haru Pengungsi Gempa Flores Pecah Usai Berhasil Hubungi Keluarga Lewat Telepon Satelit
Layanan Pemulihan Hubungan Keluarga (Restoring Family Links) yang diinisiasi oleh Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Ende berhasil menyambungkan kembali komunikasi ratusan pengungsi yang terisolasi akibat gempa magnitudo 7,7 di Laut Flores, meredakan kecemasan mendalam di tengah rusaknya infrastruktur telekomunikasi di wilayah pedalaman Kecamatan Maukaro, Nusa Tenggara Timur.
NEWSJABAR.ID - Bencana gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Laut Flores tidak hanya meruntuhkan bangunan fisik, melainkan juga melumpuhkan jaringan komunikasi di berbagai wilayah terdampak.
Kerusakan infrastruktur komunikasi yang parah di wilayah pedalaman sempat memicu kepanikan massal di kalangan para penyintas. Banyak warga yang terisolasi di posko pengungsian tanpa mengetahui kabar sanak saudara mereka. Merespons krisis tersebut, PMI Kabupaten Ende bergerak cepat menerjunkan tim khusus ke kawasan rawan bencana.
Menembus Area Blank Spot di Desa Kebirangga
Tim Subdivisi Restoring Family Links (RFL) atau Pemulihan Hubungan Keluarga dikerahkan langsung ke lokasi terisolasi di Kecamatan Maukaro, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT). Wilayah ini sempat dilaporkan mengalami masalah jaringan seluler atau blank spot yang cukup parah pasca gempa bumi hebat tersebut.
Kepala Markas Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Ende, Allan Senda, mengungkapkan bahwa kecemasan psikologis para pengungsi sangat tinggi karena terputusnya akses komunikasi. "Banyak penyintas yang mengalami trauma mendalam, bukan hanya akibat guncangan gempa susulan, melainkan karena rasa tidak tahu mengenai kondisi keluarga mereka di daerah luar," ujarnya saat dihubungi dari posko utama.
"Kami berharap dengan adanya fasilitas telepon darurat satelit gratis ini, beban psikologis warga dapat berkurang sehingga mereka bisa lebih tenang dan fokus pada pemulihan fisik," tambah Allan.
Isak Tangis Bahagia di Tengah Posko Pengungsian
Selama operasi yang berlangsung sejak tanggal 5 hingga 7 September 2026, tiga relawan terampil—Ian Dato, Astin Aga, dan Dewa Wero—menyisir area pengungsian di Dusun Nioniba, Dusun Gola 1, dan Dusun Gola 2 di Desa Kebirangga. Membawa perangkat komunikasi satelit portabel, mereka membuka kesempatan bagi warga untuk melakukan panggilan darurat secara cuma-cuma.
Salah satu momen haru terjadi ketika Hildegardis A. Aba (32), seorang pengungsi di Dusun Gola 1, akhirnya berhasil mendengar suara keluarganya di Kota Ende. Berhari-hari didera ketakutan tanpa sinyal seluler, air matanya tumpah seketika saat panggilan telepon darurat tersebut terhubung.
"Sejak gempa terjadi, saya sangat ketakutan memikirkan keselamatan saudara saya di Ende karena jaringan mati total. Begitu diberikan fasilitas ini oleh relawan, saya langsung menangis lega bisa mendengar suara mereka dalam keadaan selamat. Terima kasih banyak, kecemasan saya langsung hilang," tutur Hildegardis penuh emosional.
Komitmen Bantuan Berkelanjutan di Masa Tanggap Darurat
Layanan RFL ini berhasil menghubungkan kembali puluhan jiwa yang sempat kehilangan kontak dengan keluarga mereka. Keberhasilan ini menjadi salah satu dari sekian banyak upaya pemulihan pascabencana yang sedang gencar dilakukan di Pulau Flores.
Selain memfasilitasi komunikasi darurat, pihak organisasi juga terus mendistribusikan berbagai program bantuan kemanusiaan lainnya, termasuk penyediaan logistik bahan pangan, air bersih, tenda sekolah darurat, layanan kesehatan obat-obatan, serta pendampingan psikososial guna memulihkan kesehatan mental para penyintas dalam masa tanggap darurat bencana ini.