Skandal Energi AI: Proyek Turbin Raksasa Rp19 Triliun Mendadak Batal, Ambisi Supersonik Terancam?
Crusoe, startup pusat data AI yang baru saja mengamankan pendanaan miliaran dolar, secara mengejutkan membatalkan rencana ambisius senilai $1,25 miliar untuk menggunakan turbin canggih dari Boom Supersonic. Langkah mendadak ini memicu spekulasi besar tentang stabilitas pasokan energi untuk infrastruktur kecerdasan buatan masa depan yang semakin haus daya.
NEWSJABAR.ID - Dunia teknologi dikejutkan oleh kabar pembatalan kontrak kolosal antara dua raksasa inovasi, Crusoe dan Boom Supersonic. Crusoe, yang baru-baru ini mencatatkan sejarah dengan mengantongi pendanaan sebesar $3,9 miliar untuk membangun pabrik AI masif, secara resmi mengakhiri rencana penggunaan lini pembangkit listrik stasioner baru yang dikembangkan oleh Boom Supersonic.
Kegagalan Kesepakatan Bernilai Fantastis
Awalnya, Crusoe sepakat untuk menjadi pelanggan pertama bagi unit bisnis baru Boom Supersonic dengan memesan 29 unit turbin "Superpower" berkapasitas 42 megawatt. Nilai kesepakatannya tidak main-main, mencapai $1,25 miliar atau sekitar Rp19,4 triliun. Turbin ini merupakan modifikasi dari mesin pesawat supersonik "Symphony" yang sedang dikembangkan untuk pesawat penumpang Overture.
Namun, CEO Boom Supersonic, Blake Scholl, melalui unggahannya di media sosial mengonfirmasi bahwa kemitraan peluncuran turbin ini tidak lagi dilanjutkan. Meskipun ia memberikan ucapan selamat atas kesuksesan penggalangan dana terbaru Crusoe, Scholl mengakui bahwa turbin tersebut tidak lagi menjadi bagian dari bauran energi utama jangka pendek Crusoe di lokasi-lokasi strategis mereka.
Pergeseran Strategi di Tengah Hausnya Daya AI
Crusoe yang bermula sebagai penambang Bitcoin dengan memanfaatkan gas alam berlebih dari ladang minyak, kini telah bermetamorfosis menjadi salah satu pembangun pusat data AI terbesar di dunia. Fasilitas mereka di Abilene, Texas, bahkan menjadi tumpuan bagi kekuatan komputasi OpenAI.
Juru bicara Crusoe, Andrew Schmitt, menyatakan bahwa perusahaan harus tetap fleksibel dalam memilih solusi energi yang paling sesuai dengan kebutuhan situs yang terus berkembang. "Kami membangun pabrik AI dari hulu ke hilir, dan saat portofolio kami tumbuh, kami memilih solusi energi yang tepat untuk setiap lokasi—termasuk turbin, angin, surya, baterai, hingga jaringan listrik utama," ungkapnya. Meskipun mengakui Boom sebagai mitra yang hebat, ia menegaskan bahwa kemitraan ini tidak lagi cocok untuk saat ini.
Dampak Telak Bagi Ambisi Pesawat Supersonik
Bagi Boom Supersonic, kehilangan pelanggan perdana ini merupakan pukulan yang cukup terasa. Tahun lalu, mereka berhasil mengumpulkan investasi startup sebesar $300 juta untuk mengomersialkan bisnis turbin gas alam ini. Strateginya jelas: menggunakan keuntungan dari penjualan pembangkit listrik stasioner untuk mendanai pengembangan jet supersonik Overture yang sangat mahal.
Saat ini, Crusoe lebih memilih mengandalkan jaringan listrik dan pembangkit turbin gas di lokasi hanya sebagai cadangan untuk pusat data 1,2 gigawatt yang dibangun untuk Oracle dan OpenAI. Sementara itu, untuk pusat data 900 megawatt milik Microsoft, Crusoe tetap akan menggunakan teknologi energi turbin gas di lokasi, namun bukan berasal dari Boom.
Meskipun kemitraan ini kandas, Boom mengklaim masih memiliki pelanggan lain dalam antrean mereka dengan target pengiriman 250MW tahun depan dan ambisi mencapai 1GW pada tahun 2028. Namun, pertanyaan besar tetap membayangi: mampukah Boom menemukan pengganti sekelas Crusoe untuk menjaga ambisi supersonik mereka tetap mengangkasa?