Bukan Cuma Korban Gempa yang Menangis! Terkuak Sisi Kelam Relawan Kemanusiaan NTT yang Membutuhkan Pertolongan Jiwa
Misi kemanusiaan pascabencana sering kali melupakan kondisi psikologis para petugas di lapangan. Guna mengatasi ancaman kelelahan emosional dan trauma terselubung pada garda terdepan, Palang Merah Indonesia menerjunkan tim ahli untuk memberikan layanan pemulihan jiwa bagi ratusan anggota relawan di kawasan Flores, Nusa Tenggara Timur.
NEWSJABAR.ID - Di tengah puing-puing kehancuran pascabencana gempa Flores di Nusa Tenggara Timur (NTT), sorotan publik kerap tertuju penuh pada para korban yang kehilangan tempat tinggal dan sarana kehidupan. Namun, ada krisis sunyi yang jarang terungkap: ketahanan mental para garda terdepan penyelamat bencana yang bekerja tanpa henti mendistribusikan logistik, mengurus sanitasi, hingga menyalurkan air bersih demi bertahan hidup.
Para petugas kemanusiaan ini dituntut untuk selalu tampil tangguh dan serba bisa. Namun di balik seragam dan ketegaran mereka, ancaman kelelahan fisik yang ekstrem, stres tinggi, hingga trauma emosional senantiasa mengintai akibat terus-menerus menyaksikan duka para korban bencana secara langsung.
Sisi Gelap Operasi Bencana: Ketika Penolong Butuh Ditolong
Menanggapi potensi krisis depresi dan kelelahan mental di kalangan relawan, langkah taktis diambil dengan menghadirkan program dukungan psikososial secara intensif. Tim fasilitator senior, Yuli Arinta Dewi, S.P., S.Psi., M.Si., pakar psikologi sekaligus relawan senior, bergandengan tangan dengan Noviyanti memimpin gerakan pemulihan batin ini.
Misi utama mereka bukanlah mengukur kerusakan infrastruktur ataupun membagikan sembako, melainkan menyembuhkan luka batin tersembunyi yang dialami para relawan kemanusiaan. Misi konseling kelompok ini menjangkau tujuh kabupaten terdampak di NTT, meliputi Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Nagekeo, Ngada, Ende, hingga Sikka.
Metode Menyembuhkan Trauma: Mendengar Tanpa Menghakimi
Dalam pelaksanaannya, tim fasilitator menerapkan pendekatan yang teratur dan empatik. Para relawan diajak memasuki ruang aman di mana mereka bebas mengekspresikan beban pikiran tanpa perlu takut dihakimi.
- Ruang Bebas Curhat: Relawan diajak membagikan rasa lelah, tekanan koordinasi lapangan, hingga rasa cemas saat dihadapkan pada keterbatasan logistik.
- Psikoedukasi Manajemen Stres: Pembekalan teknik relaksasi, pentingnya jam istirahat yang efektif, serta pola komunikasi sehat antar sesama rekan tim.
- Prinsip Kesi Sukarelaan: Tidak ada pemaksaan untuk membuka luka lama; setiap peserta mengendalikan batas cerita yang ingin disampaikan.
Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental di Area Bencana
Pengelolaan kesehatan mental kini menjadi pilar vital dalam keberhasilan operasi kemanusiaan modern. Relawan yang mengalami kejenuhan hebat (*burnout*) rentan mengalami penurunan daya konsentrasi hingga hambatan pengambilan keputusan cepat di lapangan.
Melalui evaluasi berkala dan sesi pendampingan psikologis berkelanjutan, daya tahan para personel dapat terjaga dengan optimal. Langkah ini memastikan bahwa misi kemanusiaan dapat terus berlangsung secara berkelanjutan tanpa mengorbankan keselamatan jiwa para pejuangnya.