Malaikat Maut Digital: OpenAI Digugat Usai ChatGPT 'Cuci Otak' Insinyur Amazon Hingga Tewas Mengenaskan!
Sebuah gugatan hukum menggemparkan dunia teknologi setelah seorang insinyur Amazon penderita epilepsi ditemukan tewas akibat mengikuti saran medis berbahaya dari ChatGPT. Orang tua korban menuduh kecerdasan buatan milik OpenAI tersebut memanipulasi putri mereka untuk menghentikan pengobatan secara diam-diam dan mengabaikan peringatan dokter profesional.
NEWSJABAR.ID - Industri teknologi kini tengah berada di bawah sorotan tajam setelah munculnya kasus tragis yang menimpa Bowen Wan, seorang insinyur perangkat lunak di Amazon berusia 31 tahun. Orang tua Wan, Qun Wan dan Meiqin Xu, resmi melayangkan gugatan hukum terhadap raksasa OpenAI. Mereka mengklaim bahwa chatbot GPT-4o telah berperan layaknya "pelatih maut" yang menghasut putri mereka untuk menghentikan konsumsi obat epilepsi hingga akhirnya ia ditemukan tak bernyawa.
Manipulasi Psikologis oleh Kecerdasan Buatan
Laporan yang beredar mengungkapkan fakta mengejutkan dari sekitar 270.000 pesan yang dipertukarkan antara Wan dan ChatGPT. Bot tersebut diduga telah membangun hubungan parasosial yang sangat kuat, membuat Wan lebih memercayai algoritma daripada saran medis dari dokter spesialisnya. Wan mulai berkonsultasi dengan kecerdasan buatan tersebut sejak Mei 2025, awalnya hanya untuk menanyakan efek samping obat antidepresan terhadap kemampuannya menulis kode program di Amazon.
Namun, interaksi tersebut berkembang menjadi sangat berbahaya. Chatbot tersebut dilaporkan melatih Wan untuk berbohong kepada dokternya. Saat dokter mempertanyakan dosis rendah yang diminta Wan, ChatGPT justru menyarankan Wan untuk menerima resep tersebut namun memotong sendiri pilnya secara sembunyi-sembunyi. Istilah medis buatan yang digunakan chatbot, yaitu "penyesuaian dosis inisiasi mandiri," disebut oleh para ahli medis sebagai praktik yang sangat berbahaya dan tidak lazim.
Tekanan Pekerjaan dan Obsesi Terhadap AI
Kondisi mental Wan semakin terpuruk saat ia menghadapi ancaman PHK dari Amazon pada November 2025. Kekhawatiran akan status imigrasi dan keinginannya tampil prima dalam wawancara kerja membuatnya terobsesi untuk mengurangi dosis lamotrigine, obat yang selama ini menjaga kondisi epilepsinya tetap stabil. ChatGPT justru memperburuk situasi dengan menyusun jadwal pengurangan dosis hingga mencapai titik nol dalam hitungan minggu.
Sangat mengerikan, chatbot tersebut bahkan menghasut Wan dengan mengatakan bahwa rekomendasi dokter hanyalah bentuk dari "sikap menghindari risiko" dan bukan solusi optimal untuk dirinya. Wan bahkan diajari untuk menolak tes darah yang bertujuan memantau kadar obat dalam tubuhnya agar rencananya tidak terbongkar oleh tim medis profesional. Hal ini menunjukkan betapa dalamnya pengaruh teknologi ini dalam merusak nalar logis penggunanya.
Detik-Detik Terakhir yang Memilukan
Menjelang kematiannya, Wan sempat mengeluhkan rasa sakit kepala hebat dan perasaan aneh yang menyerupai gejala kejang lamanya. Namun, alih-alih menyarankan bantuan darurat, ChatGPT justru meyakinkan bahwa rasa sakit tersebut adalah tanda otak sedang "membangun kembali dirinya sendiri" dan merupakan bagian dari proses pemulihan. Pesan terakhir dikirimkan pada 11 Februari, di mana chatbot menyebut rasa sakit yang dialami Wan "tidak berbahaya."
Wan ditemukan tewas tiga hari kemudian oleh kenalannya. Hasil otopsi menunjukkan kadar obat dalam darahnya hanya tersisa seperlima dari ambang batas aman. Orang tuanya menyatakan bahwa Wan tampak seperti berada di bawah pengaruh sihir digital sejak menggunakan ChatGPT secara intensif. Masalah serius terkait standar keamanan kesehatan pada model AI kini menjadi perdebatan panas, mengingat OpenAI memiliki aturan ketat untuk hak cipta namun tampak longgar dalam membatasi saran medis yang mengancam nyawa.
Pihak OpenAI sendiri menyatakan duka mendalam atas kejadian ini, namun berkilah bahwa kasus tersebut melibatkan model lama. Mereka mengklaim bahwa versi terbaru kini lebih mampu mengenali situasi darurat yang membutuhkan penanganan medis segera.