Panas! Ambisi Tembok Perbatasan AS Ditebas Hakim, Pemerintah Nekat Seret Kasus ke Mahkamah Agung

Pemerintahan AS mendesak Mahkamah Agung untuk membatalkan perintah penghentian pembangunan tembok perbatasan di kawasan Big Bend, Texas Barat. Proyek kontroversial bernilai 1,7 miliar dolar AS ini memicu pergesekan sengit antara otoritas federal, aktivis lingkungan, hingga komunitas lokal di sepanjang perbatasan AS-Meksiko.

NEWSJABAR.ID - Perselisihan sengit mengenai kebijakan imigrasi di Amerika Serikat kembali mencapai puncaknya setelah Departemen Kehakiman secara resmi mengajukan permohonan darurat ke Mahkamah Agung. Langkah drastis ini diambil demi memulihkan rencana pembangunan benteng perbatasan di wilayah Big Bend, Texas Barat, yang sebelumnya dibekukan oleh hakim federal.

Proyek ambisius yang menelan anggaran fantastis mencapai 1,7 miliar dolar AS (sekitar Rp27 triliun) ini dirancang untuk memperketat keamanan perbatasan dengan membangun rintangan kendaraan, jalan patroli, pencahayaan intensif, hingga teknologi deteksi canggih di sekitar kawasan Taman Nasional Big Bend.

Perselisihan Hukum dan Dampak Lingkungan

Sebelumnya, Hakim Distrik AS Kathleen Cardone di El Paso mengeluarkan perintah pembekuan proyek secara penuh. Hakim menilai pejabat Kementerian Keamanan Dalam Negeri telah melampaui kewenangan hukum dengan memangkas berbagai peraturan lingkungan hidup demi mempercepat proyek tersebut tanpa mengindahkan prosedur resmi.

Langkah hukum ini berawal dari gugatan yang dilayangkan oleh kelompok pemerhati lingkungan hidup, seperti Center for Biological Diversity, serta warga lokal. Mereka menegaskan bahwa benteng fisik tersebut berpotensi merusak kelestarian alam hayati, menghancurkan situs gereja bersejarah, dan mengganggu ekosistem unik kawasan sungai Big Bend.

Menariknya, kawasan Big Bend sejauh ini hanya menyumbang sekitar 1 persen dari total penangkapan imigran ilegal. Hal ini memicu kritik kencang dari berbagai pihak yang menilai pembangunan struktur masif tersebut sangat tidak proporsional dibanding dampaknya terhadap kelestarian ekosistem dan keindahan alam setempat.

Didesak Mundur oleh Perlawanan Publik

Pihak pemerintah dalam berkas bandingnya menegaskan bahwa Kongres memberikan kewenangan penuh untuk mengesampingkan sejumlah aturan demi efisiensi pertahanan negara. Namun, perlawanan gigih dari aktivis dan pemilik tanah lokal terus membendung ambisi tersebut lewat jalur sengketa hukum yang kini berada di meja hakim agung.

Hingga saat ini, Mahkamah Agung belum memberikan keputusan resmi terkait permohonan darurat tersebut. Apabila permohonan pemerintah dikabulkan, alat-alat berat dipastikan akan kembali meraung di kawasan perbatasan dan memicu gelombang protes yang lebih luas dari masyarakat lintas sektor.



Disclaimer: Artikel ini disadur dari sumber aljazeera.com tanpa mengubah fakta dari artikel aslinya.
Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Panas! Ambisi Tembok Perbatasan AS Ditebas Hakim, Pemerintah Nekat Seret Kasus ke Mahkamah Agung
  • Panas! Ambisi Tembok Perbatasan AS Ditebas Hakim, Pemerintah Nekat Seret Kasus ke Mahkamah Agung
  • Panas! Ambisi Tembok Perbatasan AS Ditebas Hakim, Pemerintah Nekat Seret Kasus ke Mahkamah Agung
  • Panas! Ambisi Tembok Perbatasan AS Ditebas Hakim, Pemerintah Nekat Seret Kasus ke Mahkamah Agung
  • Panas! Ambisi Tembok Perbatasan AS Ditebas Hakim, Pemerintah Nekat Seret Kasus ke Mahkamah Agung
  • Panas! Ambisi Tembok Perbatasan AS Ditebas Hakim, Pemerintah Nekat Seret Kasus ke Mahkamah Agung