Skandal Mata-Mata di Ruang Tamu: Samsung Smart TV 2025 Diduga Sadap Tangisan Bayi dan Gonggongan Anjing Secara Diam-Diam!
Sebuah temuan mengejutkan dari peneliti keamanan siber mengungkap potensi pelanggaran privasi serius pada jajaran Smart TV Samsung keluaran tahun 2025. Perangkat canggih ini diduga tidak hanya sekadar menampilkan visual, tetapi juga secara aktif memantau suara-suara sensitif di dalam rumah, seperti tangisan bayi dan gonggongan anjing, untuk kemudian dikirimkan ke server perusahaan sebagai data telemetri yang sangat rinci.
NEWSJABAR.ID - Isu mengenai privasi di era digital kembali memanas setelah seorang peneliti keamanan siber membongkar praktik tersembunyi di balik sistem operasi Tizen pada Smart TV Samsung model terbaru. Melalui bedah sistem yang mendalam, ditemukan adanya baris kode yang dirancang untuk mengumpulkan data suara dari lingkungan sekitar pengguna. Hal ini memicu kekhawatiran besar bahwa televisi yang seharusnya menjadi media hiburan justru berubah menjadi alat pengintai yang sangat personal di dalam rumah tangga.
Peneliti dengan akun log4j di platform media sosial X tersebut awalnya mencurigai perilaku aneh televisinya setelah terus-menerus disuguhi iklan yang sangat spesifik dan terasa janggal. Berdasarkan penelusuran teknis, ditemukan bahwa sistem perangkat tersebut memiliki fitur bernama EV201/SOUNDSENSOR_ON. Fitur ini berfungsi untuk menghitung frekuensi suara tertentu, termasuk suara hewan peliharaan, yang kemudian dikategorikan dan dikirim ke server teknologi AI milik raksasa elektronik tersebut dalam bentuk pasangan kunci-nilai (key-value pairs).
Fitur Canggih atau Ancaman Privasi?
Meskipun Samsung secara resmi mempromosikan fitur "Pet Care" dan "Family Care" pada lini Vision AI 2025 mereka, banyak konsumen yang tidak menyadari konsekuensi di balik kemudahan tersebut. Samsung mengeklaim fitur ini bertujuan memberikan notifikasi kepada pemilik melalui aplikasi SmartThings saat terjadi sesuatu di rumah, seperti anjing yang terus menggonggong. Namun, temuan terbaru ini menunjukkan bahwa data tersebut tidak hanya diproses secara lokal, melainkan juga dilaporkan kembali ke server pusat tanpa transparansi yang memadai mengenai bagaimana data tersebut digunakan untuk pelacakan lintas perangkat atau sistem keamanan data pengguna.
Hal yang lebih mengkhawatirkan adalah dugaan bahwa televisi yang bahkan tidak memiliki mikrofon internal tetap berusaha melakukan pemantauan. Laporan tersebut menyebutkan bahwa sistem operasi akan secara otomatis mencari perangkat terhubung yang memiliki input suara, seperti soundbar atau perangkat Bluetooth pihak ketiga, untuk tetap bisa merekam aktivitas suara di ruangan tersebut. Praktik ini dinilai sangat agresif bagi sebuah perangkat pintar yang berada di area privasi utama keluarga.
Uji Coba Independen Menguatkan Kecurigaan
Meski bukti-bukti yang ada saat ini masih terus dikumpulkan, beberapa pengujian independen mulai menunjukkan hasil yang selaras. Seorang insinyur dari Hugging Face melakukan pengujian menggunakan alat Flipper Zero pada televisi yang telah dimodifikasi (root) dan mendapati bahwa perangkat tersebut memang membuka akses mikrofon selama durasi tertentu sebelum mengirimkan data. Hal ini semakin memperkuat argumen bahwa ada aktivitas latar belakang yang terjadi tanpa sepengetahuan pengguna secara eksplisit.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak produsen mengenai temuan spesifik terkait penghitungan suara tangisan dan gonggongan yang dikirimkan ke server mereka. Para ahli menyarankan pengguna untuk lebih teliti dalam memeriksa pengaturan privasi dan izin aplikasi pada televisi pintar mereka guna meminimalisir risiko penyadapan data yang tidak diinginkan.