Suhu Politik Israel Membara! Kubu Sayap Kanan Bikin Kegaduhan dan Tebar Isu Pemukiman Gaza Usai Hasil Pemilu Buntu

Peta politik Israel kembali memanas setelah perhitungan suara sementara Pemilihan Umum menunjukkan hasil yang sangat ketat dan mengancam posisi koalisi pemerintah. Menghadapi potensi kebuntuan politik tanpa mayoritas yang jelas, jajaran pejabat teras sayap kanan mulai melemparkan narasi provokatif, menuduh pemilih Arab mencoba merebut pemilu, hingga menyuarakan rencana radikal untuk membangun kembali pemukiman Yahudi di Jalur Gaza.

NEWSJABAR.ID - Gelombang ketegangan politik melanda Israel saat proses penghitungan suara Pemilu Parlemen masih berlangsung ketat. Perhitungan sementara mengindikasikan bahwa aliansi pemerintahan yang dipimpin Perdana Menteri Benjamin Netanyahu gagal mengamankan mayoritas mutlak 61 kursi dari total 120 kursi parlemen (Knesset). Kondisi ini memicu kepanikan di kalangan elit kubu kanan yang lantas melancarkan serangkaian serangan verbal bernada provokatif terhadap komunitas warga Arab.

Menteri Keuangan Bezalel Smotrich dari partai Zionisme Keagamaan secara terbuka menegaskan bahwa kubu oposisi tidak akan bisa menghentikan ekspansi pemukiman di Tepi Barat. Lebih jauh lagi, ia melontarkan janji ekstrem yang berpotensi menyulut konflik politik lebih luas dengan menyatakan bahwa pemukiman Yahudi akan didirikan kembali di Jalur Gaza—wilayah yang pemukimannya telah dibongkar oleh Israel sejak 2005 silam.

Serangan Narasi dan Tudingan Kecurangan

Tak hanya Smotrich, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu juga gencar membangun opini panik di tengah masyarakat. Selama proses pencoblosan dan penghitungan suara, Netanyahu kerap memperingatkan pendukungnya bahwa partisipasi pemilih Arab melonjak drastis yang ia klaim dapat mengancam identitas Yahudi di negara tersebut. Bahkan, Netanyahu menuding tiga figur penting dari partai Ra'am—partai mayoritas Arab—berusaha "mencuri pemilu".

Meskipun pihak kepolisian setempat sempat mengamankan tiga orang atas dugaan penyuapan suara, tidak ada bukti atau indikasi resmi yang menghubungkan mereka dengan jajaran petinggi partai Ra'am. Tuduhan tanpa dasar ini semakin diperkeruh oleh Menteri Transportasi Miri Regev yang menyebut situasi pemilu Israel saat ini sebagai pilihan mutlak antara "pemerintahan kanan atau Palestina".

Posisi Kunci Partai Arab di Tengah Kebuntuan

Analis politik menilai bahwa jika kebuntuan ini terus berlanjut, Netanyahu kemungkinan besar akan terus menanamkan doktrin kepada publik bahwa koalisi mana pun yang melibatkan aliansi partai Arab adalah tidak sah. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kubu kanan kini terancam hanya mengantongi sekitar 56 kursi, membuat posisi partai Arab seperti Ra'am menjadi penentu peta kekuatan politik Israel ke depan.

Di sisi lain, Pemimpin Partai Ra'am, Mansour Abbas, mengungkapkan bahwa dirinya telah dihubungi oleh dua belah pihak yang bersaing, baik dari kubu Netanyahu maupun dari oposisi yang dipimpin oleh mantan kepala militer Gadi Eisenkot. Dinamika ini menegaskan bahwa perebutan kekuasaan masih sangat cair dan dipenuhi ketidakpastian tinggi.



Disclaimer: Artikel ini disadur dari sumber aljazeera.com tanpa mengubah fakta dari artikel aslinya.
Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Suhu Politik Israel Membara! Kubu Sayap Kanan Bikin Kegaduhan dan Tebar Isu Pemukiman Gaza Usai Hasil Pemilu Buntu
  • Suhu Politik Israel Membara! Kubu Sayap Kanan Bikin Kegaduhan dan Tebar Isu Pemukiman Gaza Usai Hasil Pemilu Buntu
  • Suhu Politik Israel Membara! Kubu Sayap Kanan Bikin Kegaduhan dan Tebar Isu Pemukiman Gaza Usai Hasil Pemilu Buntu
  • Suhu Politik Israel Membara! Kubu Sayap Kanan Bikin Kegaduhan dan Tebar Isu Pemukiman Gaza Usai Hasil Pemilu Buntu
  • Suhu Politik Israel Membara! Kubu Sayap Kanan Bikin Kegaduhan dan Tebar Isu Pemukiman Gaza Usai Hasil Pemilu Buntu
  • Suhu Politik Israel Membara! Kubu Sayap Kanan Bikin Kegaduhan dan Tebar Isu Pemukiman Gaza Usai Hasil Pemilu Buntu