Chaos di Nganjuk! Hujan Gelas Hingga Bau Amis Politik Uang Hantam Forum GMNI Jawa Timur
Ajang demokrasi mahasiswa di Jawa Timur mendadak berubah menjadi medan pertempuran setelah Konferda GMNI di Nganjuk diwarnai aksi kekerasan fisik, intimidasi, hingga isu suap jutaan rupiah. Tidak hanya diwarnai hujan kursi dan pecahan kaca, forum ini juga diguncang tudingan intervensi dari oknum penyelenggara pemilu dan elite organisasi yang membuat legitimasi acara ini berada di ujung tanduk.
NEWSJABAR.ID - Suasana mencekam menyelimuti arena Konferensi Daerah (Konferda) DPD Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jawa Timur versi Presidium Risyad Fahlefi yang digelar di Kabupaten Nganjuk pada Minggu (6/9/2026). Apa yang seharusnya menjadi panggung gagasan kaum intelektual muda justru merosot menjadi ajang baku hantam dan persekusi yang memalukan.
Lantai Sidang Berlumur Darah dan Pecahan Kaca
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari lapangan, tensi tinggi meledak saat persidangan memasuki agenda krusial. Aksi anarkis tidak terhindarkan ketika sejumlah oknum mulai melemparkan kursi, gelas, hingga lampu ruangan yang mengakibatkan pecahan kaca berserakan di mana-mana. Akibat aksi kekerasan ini, delegasi dari Cabang Jember dilaporkan mengalami luka-luka serius.
Kericuhan ini diduga dipicu oleh ketidakpuasan peserta terhadap kehadiran sejumlah cabang yang dianggap ilegal. Beberapa delegasi melayangkan protes keras terkait adanya "cabang siluman" dan cabang dualisme yang tidak memiliki Surat Keputusan (SK) sah namun dipaksakan masuk ke dalam forum untuk memenangkan kepentingan pihak tertentu.
Skandal Suap Rp5 Juta dan Peran 'Bohir'
Di balik kepulan emosi di ruang sidang, aroma tidak sedap mengenai politik uang juga santer terdengar. Muncul dugaan kuat adanya suntikan dana segar sebesar Rp5 juta yang digelontorkan kepada setiap pengurus cabang melalui tangan-tangan calotiket. Uang haram ini disinyalir berasal dari pihak penyokong atau "bohir" yang berniat mengontrol hasil perolehan suara di 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur.
Praktik transaksional ini dinilai telah menodai muruah organisasi mahasiswa yang selama ini dikenal sebagai garda terdepan perjuangan rakyat. Para kader kritis yang mencoba melawan praktik ini justru dilaporkan mendapatkan intimidasi dan tindakan persekusi dari oknum panitia lokal serta kelompok pendukung calon tertentu.
Tudingan Intervensi Oknum KPU dan Bawaslu
Kekacauan di Nganjuk semakin rumit dengan munculnya dugaan keterlibatan pihak eksternal. Kabar mengenai adanya intervensi politik dari oknum penyelenggara Pemilu tingkat kabupaten/kota, seperti KPU dan Bawaslu, memicu kegelisahan di kalangan peserta. Oknum-oknum tersebut dituding menekan pengurus DPC GMNI di daerah asal mereka agar tunduk pada arahan politik kelompok tertentu.
Selain itu, keterlibatan eks Sekretaris Jenderal DPP GMNI, Dendy, serta jajaran presidium pusat juga menjadi sorotan tajam. Mereka dianggap terlalu jauh menginfiltrasi proses persidangan demi mengamankan kekuasaan kelompoknya. Desakan agar para elite ini menarik diri dan membiarkan proses demokrasi berjalan tanpa tekanan terus menggema dari para kader yang mendambakan kemurnian organisasi.
Hingga berita ini diturunkan, situasi di lokasi dilaporkan masih belum stabil, dengan ketegangan yang masih menyelimuti proses pemilihan kepemimpinan GMNI Jawa Timur masa bakti mendatang.