Dobrak Hegemoni Global, Indonesia Pimpin Revolusi QR Code dan Mata Uang Lokal di Panggung BRICS!
Langkah berani diambil Indonesia di panggung internasional dengan mendorong penggunaan mata uang lokal (LCT) dan integrasi sistem pembayaran QR lintas negara dalam forum BRICS di Mumbai, India, guna memperkuat benteng ekonomi dari gempuran krisis global.
NEWSJABAR.ID - Di tengah situasi geopolitik yang kian memanas dan fragmentasi ekonomi global yang tak menentu, Indonesia mengambil inisiatif strategis yang sangat progresif. Dalam ajang Pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral BRICS (BRICS FMCBG) ke-2 yang berlangsung di Mumbai, India, delegasi Indonesia menyerukan pentingnya membuang ketergantungan pada mata uang asing dominan. Sebagai gantinya, Indonesia menawarkan solusi nyata berupa penguatan transaksi mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT) serta interkoneksi sistem pembayaran QR lintas negara.
Langkah taktis ini dipimpin langsung oleh Deputi Gubernur Senior sekaligus Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti bersama Wakil Menteri Keuangan RI Juda Agung. Pertemuan bergengsi ini dihadiri oleh para raksasa ekonomi baru dunia, mulai dari Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, hingga anggota baru seperti Mesir, Uni Emirat Arab, Ethiopia, dan Iran.
Membangun Benteng Ekonomi Baru Melalui BRICS
Menurut Destry Damayanti, ketahanan ekonomi tidak akan pernah tercapai jika negara-negara berkembang terus terjebak dalam pusaran volatilitas keuangan global. Oleh karena itu, membangun sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru melalui transaksi mata uang lokal menjadi agenda krusial yang tidak bisa ditunda lagi.
“Indonesia melihat peluang luar biasa bagi BRICS untuk mengubah tantangan sistemik global menjadi resiliensi bersama. Melalui kolaborasi nyata dalam konektivitas pembayaran lintas batas, kita dapat memperkuat kedaulatan ekonomi masing-masing negara,” tegas Destry dalam keterangan resmi.
Fokus Strategis BRICS: Dari AI hingga Reformasi IMF
Tidak hanya berkutat pada sistem pembayaran digital, para pemimpin finansial BRICS juga menyoroti pentingnya adopsi kecerdasan buatan (AI), keamanan siber, dan transformasi digital yang inklusif. Di samping itu, ada kesepakatan bulat mengenai pentingnya reformasi tata kelola Dana Moneter Internasional (IMF). Langkah reformasi ini dinilai sangat penting agar hak suara dan representasi negara-negara berkembang tidak lagi dipandang sebelah mata di kancah internasional.
Indonesia meyakini bahwa keberagaman latar belakang ekonomi dari para anggota BRICS bukanlah hambatan, melainkan instrumen kekuatan yang saling melengkapi untuk menciptakan ekosistem keuangan yang lebih adil dan tangguh.
Sinergi Khusus Indonesia-India: LCT dan QR Lintas Negara
Sebagai aksi nyata di sela-sela forum, Indonesia langsung menggelar pertemuan bilateral dengan Gubernur Reserve Bank of India (RBI), Sanjay Malhotra. Pertemuan intensif ini membahas langkah konkret percepatan implementasi kerja sama ekonomi bilateral.
Fokus utama yang dibahas mencakup penyempurnaan skema Local Currency Bilateral Swap Arrangement (LCBSA) serta integrasi pembayaran kode QR antara kedua negara. Jika ini terwujud, maka transaksi perdagangan dan pariwisata antara Indonesia dan India dipastikan akan jauh lebih efisien, cepat, dan aman tanpa perlu melibatkan mata uang ketiga.
Dengan hasil pertemuan BRICS FMCBG ke-2 ini, Indonesia optimistis ruang dialog antarnegara berkembang akan terus terjaga sekaligus menjadi jembatan yang kokoh di tengah tajamnya polarisasi global saat ini.