Jangan Hanya Poles Beton! Pengamat Ingatkan Gibran Soal Jeritan Tersembunyi Korban Bencana di Sumatera Utara
Pascabencana alam yang melanda Sumatera Utara, sorotan kini tertuju pada efektivitas langkah pemulihan yang dilakukan pemerintah. Akademisi mengingatkan bahwa membangun kembali infrastruktur fisik seperti rumah dan jalan barulah setengah jalan, sementara pemulihan sejati harus menyentuh urat nadi perekonomian, pendidikan, dan kesejahteraan sosial masyarakat yang terdampak.
NEWSJABAR.ID - Tragedi pilu bencana alam sering kali meninggalkan trauma mendalam, tidak hanya bagi jiwa para korban tetapi juga bagi roda perekonomian mereka yang mendadak lumpuh. Menanggapi situasi krusial ini, akademisi dari Universitas Sumatera Utara (USU), Wahyu Ario Pratomo, melayangkan kritik sekaligus masukan konstruktif. Ia menegaskan bahwa indikator kesuksesan pemulihan daerah terdampak tidak boleh semata-mata diukur dari kemegahan fisik bangunan baru.
"Ukuran keberhasilan pemulihan tidak boleh berhenti pada berapa rumah yang selesai dibangun atau berapa kilometer jalan yang telah diperbaiki," ujar Wahyu tegas. Menurutnya, esensi sejati dari rekonstruksi pascabencana adalah mengembalikan kelayakan hidup masyarakat hingga mereka benar-benar mampu berdiri di atas kaki sendiri secara normal.
Menyoroti Langkah Nyata Wapres di Lapangan
Pandangan kritis akademisi ini mencuat di tengah momentum kunjungan kerja Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ke beberapa wilayah terdampak di Sumatera Utara, termasuk Tapanuli Tengah, Kota Sibolga, dan Tapanuli Selatan. Kunjungan langsung ke episentrum pemulihan ini dinilai sebagai langkah awal yang sangat krusial untuk memetakan realitas di lapangan.
Di wilayah Aek Parombunan misalnya, proses relokasi memang menunjukkan progres dengan mulainya penyerahan hunian tetap kepada warga terdampak. Sementara di Tapanuli Selatan, percepatan pembangunan hunian permanen terus digenjot demi mengakhiri masa transisi yang melelahkan bagi para pengungsi. Namun, di balik dinding beton hunian baru tersebut, tantangan yang lebih besar sudah menanti.
Ekonomi dan Layanan Dasar: Kunci Pemulihan Substantif
Wahyu menekankan bahwa hunian yang kokoh akan menjadi sia-sia jika tidak dibarengi dengan ekosistem kehidupan yang memadai. Menurutnya, pemulihan komprehensif wajib menyentuh tiga pilar utama: pendidikan, pekerjaan, dan aktivitas ekonomi lokal.
Jika sebuah keluarga mendapatkan rumah baru namun kehilangan mata pencaharian mereka, maka proses rekonstruksi sosial dianggap gagal secara substantif. Akses terhadap air bersih, fasilitas sanitasi yang layak, jaringan listrik, sekolah, pusat layanan kesehatan, serta transportasi harus terintegrasi sejak awal pembangunan kawasan pemukiman baru.
Sinergi Pusat dan Daerah: Jangan Biarkan Rakyat Menunggu!
Sebelumnya, dalam arahannya di Sumatera Utara, Wakil Presiden mendorong penguatan kolaborasi yang solid antara pemerintah pusat dan daerah guna mempercepat penanganan pascabencana banjir dan tanah longsor. Ia mengingatkan bahwa para pejabat daerah merupakan ujung tombak yang berhadapan langsung dengan jeritan masyarakat.
Segenap jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) diinstruksikan untuk proaktif mengidentifikasi hambatan di lapangan tanpa perlu menunda-nunda solusi. Kolaborasi yang gesit dan tanggap darurat yang cepat diharapkan mampu melahirkan ketangguhan baru bagi masyarakat, sehingga mereka tidak hanya bangkit dari keterpurukan, tetapi juga siap menghadapi risiko bencana di masa depan.