Riyadh Membara! Hujan Rudal Balistik Houthi Guncang Jantung Arab Saudi, Bandara Internasional Lumpuh Seketika

Ketegangan di Timur Tengah kembali membara setelah kelompok milisi Houthi yang disokong Iran melancarkan serangan udara besar-besaran menggunakan rudal balistik dan drone ke ibu kota Arab Saudi, Riyadh, serta sejumlah fasilitas energi vital di sepanjang pesisir Laut Merah. Serangan ini memicu kepanikan luar biasa, menghentikan aktivitas penerbangan, dan memaksa Amerika Serikat mengeluarkan peringatan darurat bagi warganya.

NEWSJABAR.ID - Eskalasi konflik di Yaman kini benar-benar bergeser ke jantung pertahanan Arab Saudi. Langit Riyadh seketika mencekam setelah kelompok milisi Houthi mengklaim bertanggung jawab atas hujan serangan yang melibatkan rudal balistik dan pesawat tanpa awak (drone). Serangan udara ini tidak hanya menargetkan pusat pemerintahan, tetapi juga menyasar instalasi minyak milik raksasa energi Aramco di Yanbu.

Otoritas pertahanan udara Arab Saudi melaporkan bahwa mereka berhasil pencegat dan menghancurkan sebuah rudal balistik yang meluncur menuju Riyadh pada Sabtu malam. Kendati demikian, kepulan asap hitam pekat terlihat membubung tinggi dari area tangki bahan bakar di dekat Bandara Internasional King Khalid. Insiden tersebut sempat melumpuhkan jadwal penerbangan dan memaksa otoritas bandara melakukan penundaan darurat.

Kepanikan di Jantung Ibu Kota

Sirene peringatan serangan udara meraung-raung di penjuru Riyadh untuk pertama kalinya sejak Houthi mengintensifkan gempuran mereka. Alarm bahaya ini dikirimkan langsung ke ponsel-ponsel warga setempat melalui sistem pertahanan sipil Arab Saudi, memperingatkan potensi bahaya yang mengancam keselamatan mereka.

"Saya mendengar sirine berbunyi, lalu jendela rumah saya bergetar hebat," ujar salah seorang warga Riyadh bagian utara yang enggan disebutkan identitasnya. "Rasanya sangat menakutkan, kami tidak pernah menyangka situasi akan mencekam seperti ini."

Juru bicara militer Houthi, Yahya al-Sarea, secara terbuka mengonfirmasi serangan tersebut melalui pernyataan daring. Ia menegaskan bahwa pihaknya mengerahkan sejumlah besar rudal jelajah, rudal balistik, dan drone tempur untuk menghantam lokasi-lokasi sensitif milik koalisi Saudi. Menurut Al-Sarea, aksi ini merupakan aksi balasan atas ratusan serangan udara yang dilancarkan jet tempur koalisi di ibu kota Yaman, Sana'a, dalam sepekan terakhir.

Amerika Serikat Rilis Travel Warning

Melihat situasi yang kian tak terkendali dalam konflik Timur Tengah ini, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat langsung merilis imbauan keamanan tingkat tinggi. AS mendesak seluruh warganya yang berada di wilayah Teluk untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra dan bersiap menghadapi pembatalan perjalanan udara secara mendadak.

"Serangan Houthi yang menargetkan fasilitas sipil, termasuk bandara internasional, menunjukkan bahwa konflik militer ini berpotensi meningkat dengan sangat cepat," tulis pernyataan resmi Departemen Luar Negeri AS. Pemerintah AS bahkan menyarankan warganya untuk mempertimbangkan kembali rencana perjalanan ke atau melalui wilayah tersebut.

Dampak Ekonomi Global dan Pertempuran Darat yang Berdarah

Selain perang udara, pertempuran darat antara pasukan Houthi dan pasukan loyalis pemerintah yang didukung koalisi Saudi juga meletus hebat di berbagai wilayah Yaman. Sumber militer dari kedua belah pihak mengonfirmasi bahwa sedikitnya 48 prajurit tewas dalam bentrokan bersenjata pada akhir pekan kemarin, yang terdiri dari 31 milisi Houthi dan 17 tentara pemerintah.

Badan Migrasi Internasional (IOM) di bawah naungan PBB melaporkan bahwa krisis kemanusiaan di Yaman kian memburuk akibat pertempuran terbaru ini. Jumlah pengungsi yang kehilangan tempat tinggal kini telah menembus angka 104.796 jiwa dan diproyeksikan akan terus bertambah.

Di sektor ekonomi global, ketegangan ini langsung memicu kekhawatiran atas pasokan minyak mentah dunia. Terlebih setelah Houthi berhasil merebut kendali atas kota pelabuhan strategis Mokha dan Pulau Perim, yang merupakan gerbang utama jalur pelayaran ekspor minyak ke Asia dan Eropa. Raksasa perbankan investasi global, JP Morgan, bahkan mengaku kesulitan memprediksi arah pergerakan harga minyak mentah akibat ketidakpastian perang yang semakin sulit dimodelkan ini.



Disclaimer: Artikel ini disadur dari sumber bbc.co.uk tanpa mengubah fakta dari artikel aslinya.
Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Riyadh Membara! Hujan Rudal Balistik Houthi Guncang Jantung Arab Saudi, Bandara Internasional Lumpuh Seketika
  • Riyadh Membara! Hujan Rudal Balistik Houthi Guncang Jantung Arab Saudi, Bandara Internasional Lumpuh Seketika
  • Riyadh Membara! Hujan Rudal Balistik Houthi Guncang Jantung Arab Saudi, Bandara Internasional Lumpuh Seketika
  • Riyadh Membara! Hujan Rudal Balistik Houthi Guncang Jantung Arab Saudi, Bandara Internasional Lumpuh Seketika
  • Riyadh Membara! Hujan Rudal Balistik Houthi Guncang Jantung Arab Saudi, Bandara Internasional Lumpuh Seketika
  • Riyadh Membara! Hujan Rudal Balistik Houthi Guncang Jantung Arab Saudi, Bandara Internasional Lumpuh Seketika