Sinyal Damai atau Gertakan? Trump Klaim Sudah 'Teleponan' Diam-diam dengan Iran Saat Dunia Tercekik Harga Minyak!
Presiden Donald Trump menggegerkan dunia dengan klaim bahwa konflik panas antara Amerika Serikat dan Iran kini berada di ambang penyelesaian. Di tengah meroketnya harga minyak dunia akibat blokade Selat Hormuz, Trump mengaku telah menjalin kontak langsung dengan pihak Teheran—sebuah pernyataan yang memicu tanda tanya besar di tengah bantahan keras dari pejabat Iran.
NEWSJABAR.ID - Ketegangan di Timur Tengah memasuki babak baru yang penuh teka-teki setelah Presiden Donald Trump menyatakan harapannya bahwa perang dengan Iran akan segera berakhir. Di hadapan para pemburu berita, Trump melontarkan pernyataan mengejutkan bahwa dirinya telah berbicara 'secara langsung' dengan otoritas di Teheran untuk membahas kesepakatan damai. 'Mudah-mudahan kita sedang menuju akhir dari perang ini,' ujar Trump penuh percaya diri, mengisyaratkan bahwa pihak Iran sebenarnya sangat ingin mencapai kesepakatan secepat mungkin.
Bantahan Keras dari Teheran
Namun, klaim sepihak ini justru ditanggapi dingin oleh pihak lawan. Mohsen Rezaei, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, menegaskan bahwa tidak akan ada diplomasi internasional selama syarat-syarat yang diajukan Iran belum dipenuhi secara utuh. Teheran tetap bersikeras menuntut AS untuk menghormati butir-butir kesepakatan yang sebelumnya sempat goyah, terutama terkait pembukaan kembali jalur perdagangan di Selat Hormuz.
Klaim Trump mengenai komunikasi langsung ini dianggap signifikan karena selama ini perundingan selalu bergantung pada perantara seperti Qatar, Pakistan, dan Oman. Mantan diplomat Iran, Abbas Khameyar, bahkan menyebut narasi yang dibangun Washington hanyalah retorika belaka yang tidak dipercaya oleh siapa pun di pihak Teheran.
Dampak Ngeri ke Ekonomi Global
Situasi semakin pelik dengan meluasnya konflik hingga ke Yaman. Kelompok Houthi yang beraliansi dengan Iran dilaporkan terus menekan jalur pasokan energi global. Akibat gejolak ini, ekonomi global terancam setelah harga minyak mentah terbang tinggi melampaui angka $100 per barel pekan lalu.
Blokade yang diberlakukan Iran di Selat Hormuz, jalur di mana seperlima pasokan minyak dunia melintas, telah menciptakan kepanikan pasar. Sementara itu, di Muscat, pejabat AS dikabarkan telah bertemu diam-diam dengan perwakilan Houthi untuk memastikan keamanan kapal-kapal komersial di Laut Merah, meskipun ketegangan konflik senjata di wilayah tersebut masih sulit dipadamkan.
Peran Strategis China dan Pakistan
Di sisi lain, upaya diplomasi terus digenjot oleh kekuatan besar lainnya. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, baru-baru ini melakukan pembicaraan intensif di Beijing. China, yang bertindak sebagai mediator, mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri dan segera membuka kembali Selat Hormuz demi stabilitas kawasan.
Meskipun Trump tampak optimis, jalan menuju perdamaian masih sangat terjal. Dengan runtuhnya nota kesepahaman (MoU) yang sebelumnya ditengahi oleh Pakistan, dunia kini hanya bisa menunggu apakah klaim 'teleponan' Trump ini benar-benar akan membuahkan hasil nyata atau hanya sekadar manuver politik di tengah krisis yang membara.