Sinyal Damai Pascakejatuhan Maduro: Puluhan Tahanan Politik Venezuela Akhirnya Bebas dari Jeruji Besi!
Peta politik Venezuela kembali berguncang setelah 39 tahanan politik, termasuk mereka yang sempat dituduh melakukan terorisme narkoba, akhirnya menghirup udara bebas menyusul kesepakatan alot antara pemerintah interim dan kubu oposisi yang direstui oleh Washington.
NEWSJABAR.ID - Angin perubahan radikal tampaknya mulai berembus di Caracas. Sebanyak 39 tahanan politik dilaporkan telah dibebaskan dari berbagai jeruji besi di Venezuela sepanjang akhir pekan kemarin. Langkah mengejutkan ini terjadi setelah bergulirnya putaran kedua negosiasi intensif antara pemerintah transisi dan kelompok oposisi pasca-tumbangnya rezim Nicolas Maduro.
Lembaga swadaya masyarakat pembela hak asasi manusia, Justicia, Encuentro y Perdon (JEP), mengonfirmasi bahwa gelombang pembebasan ini mencakup delapan perempuan yang sebelumnya dituduh terlibat dalam jaringan 'terorisme narkoba' pada tahun 2021. Selain itu, seni orang yang didakwa berkolaborasi dengan Amerika Serikat dalam upaya penggulingan Maduro pada tahun 2020 juga turut dibebaskan dari sel tahanan mereka.
Negosiasi di Bawah Bayang-Bayang Washington
Pembebasan ini tidak terjadi begitu saja. Ini merupakan hasil nyata dari meja perundingan putaran kedua yang dipimpin oleh Presiden Interim Delcy Rodriguez—mantan Wakil Presiden di era Maduro—dengan kubu oposisi. Dialog panas ini berjalan di bawah pengawasan ketat dan restu dari Amerika Serikat, yang sebelumnya memegang peran kunci dalam mendepak Maduro dari kursi kekuasaan pada Januari lalu.
Sebelumnya, perundingan putaran pertama yang digelar pada Agustus lalu lebih berfokus pada upaya pencairan aset-aset Venezuela yang dibekukan di luar negeri. Dana segar tersebut sangat krusial untuk memulihkan negara pasca-bencana gempa bumi dahsyat pada Juni lalu yang merenggut lebih dari 6.300 korban jiwa, sekaligus untuk mereformasi sistem peradilan yang dinilai korup.
Langkah Maju yang Masih Dinilai Lamban
Meski Rodriguez telah mengesahkan undang-undang amnesti pada Februari lalu di bawah tekanan Gedung Putih, para aktivis menilai proses pembebasan para tahanan berjalan sangat lambat. Krisis politik yang berkepanjangan membuat ribuan keluarga cemas menanti nasib kerabat mereka yang masih mendekam di balik jeruji besi.
Data dari organisasi kemanusiaan Foro Penal menunjukkan bahwa hingga 18 September, masih ada sekitar 344 orang yang dikategorikan sebagai tahanan politik. Jumlah ini memang menurun dari angka 391 orang pada Agustus, setelah pemerintah membebaskan 131 orang melalui program skema alternatif.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, sempat menyatakan bahwa lebih dari 1.000 warga Venezuela telah dibebaskan sejak runtuhnya kekuasaan Maduro. Rubio menyebut momentum ini sebagai 'langkah krusial' menuju rekonsiliasi nasional yang sesungguhnya.
Aksi Protes Masih Membara
Kendati ada kabar baik ini, perjuangan belum sepenuhnya usai. Sanak keluarga dari para tahanan yang tersisa terus menggelar aksi unjuk rasa di depan Kedutaan Besar AS di Caracas serta di luar penjara El Rodeo I—sebuah fasilitas penahanan yang kerap dituding oleh organisasi HAM internasional sebagai pusat penyiksaan yang kejam.
Pihak keluarga menegaskan bahwa mereka tidak akan berhenti menyuarakan tuntutan mereka sampai seluruh tahanan tanpa terkecuali dibebaskan secara penuh dan tanpa syarat.