Suku Bunga AS Meroket Pasca 3 Tahun: Amunisi Baru Kevin Warsh yang Bikin Donald Trump Meradang!

Keputusan mengejutkan datang dari Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) yang resmi mengerek suku bunga acuan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir demi meredam lonjakan inflasi yang tak terkendali. Langkah berani ini langsung memicu ketegangan politik panas setelah Presiden Donald Trump melayangkan kritik tajam terhadap dewan kebijakan moneter yang dianggapnya 'bermusuhan'.

NEWSJABAR.ID - Babak baru perang melawan inflasi di Amerika Serikat resmi dimulai setelah Federal Reserve (The Fed) memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan ke kisaran 3,75% hingga 4% dari sebelumnya 3,5% hingga 3,75%.

Langkah krusial ini diambil secara bulat oleh dewan gubernur, mengabaikan desakan agresif dari Presiden Donald Trump yang sebelumnya menuntut pemotongan suku bunga. Ketua Fed yang baru, Kevin Warsh, menegaskan bahwa tindakan ini adalah keputusan yang "sadar dan bertanggung jawab" mengingat inflasi telah mencabik-cabik daya beli masyarakat terlalu lama. Menariknya, skeptisisme sempat membayangi Warsh saat awal menjabat, di mana oposisi menuduhnya hanya akan menjadi boneka politik Trump. Namun, kenaikan suku bunga perdana sejak Juli 2023 ini membuktikan independensi lembaga keuangan tertinggi AS tersebut dalam merumuskan kebijakan moneter yang objektif.

Ketegangan Politik: Trump Sebut Dewan Fed 'Bermusuhan'

Trump sendiri tidak tinggal diam mendengar keputusan tersebut. Meski mengaku tetap mendukung Warsh secara personal, ia menyebut komite penentu kebijakan di dalam Fed sangat "politis" dan "bermusuhan". Di sisi lain, kubu Demokrat di Capitol Hill mengecam keras situasi ini. Pemimpin Mayoritas Senat, Chuck Schumer, menuding kebijakan ini sebagai imbas dari ketidakmampuan Trump dalam mengelola roda perekonomian nasional, yang pada akhirnya justru akan semakin mencekik dompet rakyat akibat pembengkakan utang.

Dampak Nyata Bagi Konsumen dan Sektor Perbankan

Dampak langsung dari lonjakan bunga ini langsung terasa di sektor riil. Raksasa perbankan global seperti JP Morgan, KeyCorp, dan BNY langsung merespons dengan menaikkan suku bunga pinjaman utama mereka menjadi 7%. Bagi masyarakat umum, ini berarti beban berat bagi pengajuan kredit pemilikan rumah (KPR), cicilan kendaraan, hingga tagihan kartu kredit yang kian melambung. Kendati demikian, bagi para penabung, kenaikan ini menawarkan secercah harapan berupa imbal hasil simpanan yang lebih menggiurkan.

Krisis geopolitik global, khususnya ketegangan di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak mentah dunia, dituding sebagai biang keladi utama melambungnya harga barang dan jasa di pasar domestik AS. Warsh mengakui bahwa bank sentral tidak memiliki kekuatan magis untuk mengontrol harga bahan bakar atau bahan pangan secara langsung di toko kelontong. Namun, melalui instrumen ekonomi global ini, Fed berupaya mencegah penularan inflasi yang lebih luas demi menjaga stabilitas jangka panjang. Mayoritas pengambil kebijakan memprediksi suku bunga masih berpotensi naik lagi hingga menyentuh angka 4,25% atau bahkan 4,5% pada tahun depan sebelum perlahan melandai pada akhir dekade ini.



Disclaimer: Artikel ini disadur dari sumber bbc.co.uk tanpa mengubah fakta dari artikel aslinya.
Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Suku Bunga AS Meroket Pasca 3 Tahun: Amunisi Baru Kevin Warsh yang Bikin Donald Trump Meradang!
  • Suku Bunga AS Meroket Pasca 3 Tahun: Amunisi Baru Kevin Warsh yang Bikin Donald Trump Meradang!
  • Suku Bunga AS Meroket Pasca 3 Tahun: Amunisi Baru Kevin Warsh yang Bikin Donald Trump Meradang!
  • Suku Bunga AS Meroket Pasca 3 Tahun: Amunisi Baru Kevin Warsh yang Bikin Donald Trump Meradang!
  • Suku Bunga AS Meroket Pasca 3 Tahun: Amunisi Baru Kevin Warsh yang Bikin Donald Trump Meradang!
  • Suku Bunga AS Meroket Pasca 3 Tahun: Amunisi Baru Kevin Warsh yang Bikin Donald Trump Meradang!