Ambisi Gila Menko Bahlil: Stop Manjakan Smelter 'Nakal', Nikel RI Wajib Cuan 100 Persen!

Pemerintah Indonesia di bawah komando Menko Bahlil Lahadalia resmi menabuh genderang perang terhadap praktik hilirisasi setengah hati. Menghadapi ancaman banjir pasokan nikel global, Jakarta kini beralih fokus pada penciptaan nilai tambah mutlak sebesar 100 persen guna mengunci dominasi pasar dunia dan mengamankan devisa negara.

NEWSJABAR.ID - Pemerintah Indonesia melalui Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, tengah menyiapkan jurus maut untuk merombak total struktur industri pertambangan nikel nasional. Alih-alih melakukan moratorium bijih nikel secara membabi buta, Bahlil menegaskan fokus utamanya adalah memacu industrialisasi hingga ke titik puncak.

Target yang dipatok pun tidak main-main: nilai tambah 100 persen harus tercipta di dalam negeri, menepis ketergantungan pada produk olahan yang masih bersifat tanggung. Langkah strategis ini menjadi respon cepat atas kondisi oversupply nikel di pasar internasional yang mulai mengancam stabilitas harga global.

Perang Melawan Produk Setengah Jadi

Bahlil mengungkapkan adanya selisih pasokan global yang mencapai 2,5 juta ton antara tingkat konsumsi dan produksi. Kondisi kelebihan beban ini membuat pemerintah harus bertindak selektif. Smelter-smelter yang hanya mampu menghasilkan produk antara dengan nilai tambah rendah, yakni di kisaran 50 hingga 60 persen, kini masuk dalam radar pengawasan ketat dan kemungkinan besar akan dibatasi pembangunannya.

"Yang benar itu adalah pemerintah sedang mempertimbangkan untuk membuat satu kebijakan. Sekarang hilirisasi yang kita inginkan adalah ending-nya nilai tambah 100 persen di sini," tegas Bahlil saat memberikan keterangan resmi di Jakarta. Ia menekankan bahwa Indonesia tidak boleh lagi hanya menjadi eksportir barang setengah jadi yang nilai ekonominya belum optimal bagi ekonomi nasional.

Dominasi Indonesia di Panggung Dunia

Transformasi ini diharapkan mampu menyerap limpahan pasokan melalui penguatan manufaktur hilir di tanah air. Berdasarkan data industri, total produksi nikel olahan Indonesia diproyeksikan menyentuh angka 2,5 juta ton pada tahun 2025. Angka fantastis ini memposisikan Indonesia sebagai penguasa tunggal yang mengendalikan sekitar 60 persen kebutuhan nikel di seluruh planet bumi.

Meski diprediksi akan ada sedikit koreksi produksi pada tahun 2026, optimisme tetap membumbung tinggi menyambut tahun 2027. Pada periode tersebut, proyek-proyek raksasa berbasis hidrometalurgi atau HPAL dijadwalkan mulai beroperasi penuh. Teknologi ini menjadi kunci utama dalam mengolah nikel menjadi komponen utama baterai kendaraan listrik yang memiliki nilai jual berkali-kali lipat lebih tinggi.

Pemerintah optimis bahwa dengan mendorong industri hilir yang lebih agresif, bahan baku setengah jadi tidak akan lagi lari ke luar negeri. Dengan kapasitas produksi MHP (Mixed Hydroxide Precipitate) yang diperkirakan melampaui 900 ribu ton pada akhir 2027, Indonesia bersiap mengukuhkan diri bukan hanya sebagai penambang, melainkan pusat energi masa depan dunia.



Disclaimer: Artikel ini disadur dari sumber cnbcindonesia.com tanpa mengubah fakta dari artikel aslinya.
Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Ambisi Gila Menko Bahlil: Stop Manjakan Smelter 'Nakal', Nikel RI Wajib Cuan 100 Persen!
  • Ambisi Gila Menko Bahlil: Stop Manjakan Smelter 'Nakal', Nikel RI Wajib Cuan 100 Persen!
  • Ambisi Gila Menko Bahlil: Stop Manjakan Smelter 'Nakal', Nikel RI Wajib Cuan 100 Persen!
  • Ambisi Gila Menko Bahlil: Stop Manjakan Smelter 'Nakal', Nikel RI Wajib Cuan 100 Persen!
  • Ambisi Gila Menko Bahlil: Stop Manjakan Smelter 'Nakal', Nikel RI Wajib Cuan 100 Persen!
  • Ambisi Gila Menko Bahlil: Stop Manjakan Smelter 'Nakal', Nikel RI Wajib Cuan 100 Persen!