Kiamat Kemanusiaan di Taiz! Pengepungan Brutal Houthi Cekik Jutaan Nyawa, Harga Pangan Meledak Tak Terkendali
Kota Taiz di Yaman kini kembali terjerumus dalam kegelapan pengepungan setelah milisi Houthi memutus jalur transportasi utama, memicu krisis energi yang parah dan lonjakan harga kebutuhan pokok yang gila-gilaan, mengulangi trauma mematikan dari dekade lalu bagi jutaan warga yang terjebak di dalamnya.
NEWSJABAR.ID - Taiz kembali menjadi medan tempur yang mencekam. Iskandar Abdullah, pria berusia 37 tahun, tahu betul rasanya hidup di bawah tekanan kepungan yang mematikan. Kota yang menjadi pusat populasi utama di barat daya Yaman ini pernah hancur lebur akibat pengepungan Houthi antara tahun 2015 hingga 2016. Kini, bayang-bayang kelam itu kembali nyata setelah kelompok yang didukung Iran tersebut berhasil memutus akses utama menuju wilayah pemerintah.
"Itu adalah hari-hari yang sangat sulit," kenang Abdullah dengan nada getir. Baginya, melihat jalan utama diputus kembali adalah mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Sejak awal September, Houthi melancarkan serangan agresif di sepanjang pantai Laut Merah, menguasai kota pelabuhan Mocha dan distrik Dhubab yang strategis di selat Bab al-Mandeb. Jalur ini bukan sekadar jalan biasa, melainkan urat nadi bagi 12 persen perdagangan ekonomi global yang melintas di sana.
Blokade Total: Harga Bensin Tembus Langit
Dampak dari manuver militer ini langsung terasa di perut rakyat. Hanya dalam hitungan hari setelah jalur al-Turbah terputus, jalanan di Taiz mendadak sepi seperti kota mati. Penyebabnya jelas: kelangkaan bahan bakar yang parah. Di pasar gelap, harga satu jeriken bensin berkapasitas 20 liter meroket dari 30.000 riyal Yaman menjadi 90.000 riyal Yaman. Kenaikan tiga kali lipat ini melumpuhkan aktivitas warga dalam sekejap.
Kondisi pasar pun tak kalah memprihatinkan. Warga berbondong-bondong menyerbu toko kelontong karena takut stok pangan akan benar-benar habis. Harga gandum, tepung, hingga sayuran melonjak dua kali lipat. Ada tuduhan bahwa para pedagang mulai menimbun barang untuk mengeruk keuntungan di tengah konflik Timur Tengah yang tak kunjung usai ini.
Ancaman Nyata Bagi 3 Juta Jiwa
Nabil Jamil, Direktur Jenderal Kantor Perencanaan dan Pembangunan di Taiz, memperingatkan bahwa pengepungan kali ini jauh lebih berbahaya dibandingkan tahun 2015. Sebanyak 2,8 juta penduduk asli ditambah 200.000 pengungsi baru kini terjebak tanpa akses yang memadai. Jalur-jalur tikus di pegunungan yang dulunya digunakan untuk menyelundupkan tabung oksigen dan obat-obatan kini semakin sulit ditembus.
Pengepungan ini bukan sekadar strategi militer, melainkan dianggap sebagai upaya balas dendam simbolis. Taiz selama ini dikenal sebagai benteng perlawanan yang keras terhadap kelompok Houthi. Dengan menguasai atau setidaknya mencekik kota ini, Houthi ingin menunjukkan bahwa tidak ada satu jengkal tanah pun di Yaman yang aman dari jangkauan mereka.
Jeritan Minta Tolong kepada Dunia
Aktivis kemanusiaan dan praktisi hukum seperti Nabil Sharyan menekankan bahwa warga sipil tidak boleh dijadikan alat tawar-menawar politik. Anak-anak, lansia, dan pasien yang membutuhkan perawatan medis mendesak kini berada di ambang maut karena sulitnya akses menuju rumah sakit. Krisis kemanusiaan ini telah sampai pada titik nadir yang membutuhkan intervensi segera.
Pemerintah setempat dikabarkan telah melayangkan surat darurat kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera membuka koridor aman bagi logistik dan bantuan medis. Namun, hingga saat ini, bantuan yang diharapkan masih belum juga tiba, sementara dentuman senjata di pinggiran kota terus mengingatkan warga Taiz bahwa maut bisa datang kapan saja melalui rasa lapar atau peluru nyasar.