Cermin Retak Tel Aviv: Mengapa Musuh Terbesar Netanyahu Adalah 'Kembaran' Politiknya Sendiri?
Benjamin Netanyahu, pemimpin terlama dalam sejarah Israel, kini berada di pusaran kontroversi global saat ia menghadapi tuduhan kejahatan perang sekaligus upaya mempertahankan kekuasaan. Meski dunia internasional melakukan aksi boikot, warisan politik sesungguhnya yang ia tinggalkan di dalam negeri bukanlah perdamaian, melainkan lahirnya faksi oposisi yang justru mencerminkan gaya kepemimpinan garis keras dan militeristik yang ia ciptakan sendiri.
NEWSJABAR.ID - Panggung sidang umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) baru-baru ini menjadi saksi bisu betapa terbelahnya persepsi dunia terhadap Benjamin Netanyahu. Saat ia melangkah ke podium, gelombang delegasi mancanegara langsung mengosongkan ruangan sebagai bentuk protes terhadap kebijakan militernya di Gaza. Namun, pria yang akrab disapa Bibi ini justru membalas dengan seringai provokatif, menyebut mereka yang pergi sebagai "penakut moral".
Bagi pendukung setianya di Israel, sikap menantang tersebut adalah alasan utama mengapa mereka tetap menginginkannya tetap berkuasa. Netanyahu dianggap sebagai satu-satunya sosok yang mampu berdiri tegak di tengah kepungan tekanan politik internasional. Ia bukan sekadar politisi; bagi banyak orang, ia adalah simbol kebanggaan identitas Yahudi yang tak tergoyahkan oleh norma diplomatik mana pun.
Arsitek Polarisasi yang Ulung
Lahir di Tel Aviv pada 1949, pandangan dunia Netanyahu dibentuk oleh pesimisme mendalam ayahnya, Benzion Netanyahu, seorang sejarawan yang memandang dunia sebagai ancaman abadi bagi eksistensi Yahudi. Pengaruh ini, ditambah dengan gugurnya sang kakak dalam operasi militer Entebbe, menempa Netanyahu menjadi pemimpin yang percaya bahwa kekuatan militer adalah satu-satunya bahasa yang dipahami dalam konflik Timur Tengah.
Sejak pertama kali menjabat sebagai perdana menteri termuda Israel pada 1996, Netanyahu telah berulang kali mengubah wajah pemerintahan. Ia berhasil membangun koalisi yang mencerminkan opini publik sekaligus mengarahkan opini tersebut ke arah yang ia inginkan. Para pengamat menyebutnya selalu berada dalam "mode kampanye", di mana perpecahan domestik sering kali digunakan sebagai alat untuk memperkuat basis dukungannya.
Warisan Kanan Jauh dan Krisis Keadilan
Di bawah kendali Netanyahu, Israel bergerak semakin ke kanan. Kebijakannya yang mendukung ekspansi permukiman ilegal di Tepi Barat dan tindakan keras di Gaza telah memicu kecaman luas, termasuk penyelidikan atas dugaan kejahatan perang oleh Pengadilan Pidana Internasional (ICC). Ia juga merangkul tokoh-tokoh kontroversial seperti Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich ke dalam lingkaran kekuasaannya, yang oleh banyak pihak dianggap sebagai legitimasi terhadap rasisme dan fasisme sistemik.
Tak hanya di medan perang, Netanyahu juga bertempur di dalam negeri melawan institusi peradilan. Terjerat kasus korupsi sejak 2019, ia mencoba melakukan perombakan yudisial besar-besaran yang memicu demonstrasi kolosal di jalan-jalan Tel Aviv. Kritikus menuduhnya sengaja menciptakan kekacauan untuk menghindari jeruji besi, sebuah langkah yang disebut-sebut melemahkan struktur demokrasi Israel dari dalam.
Ketika Musuh Menjadi Cermin
Ironisnya, tantangan terbesar bagi dominasi Netanyahu saat ini bukan datang dari kelompok sayap kiri yang menginginkan perdamaian, melainkan dari koalisi lawan yang justru memiliki visi militeristik yang serupa dengannya. Sebagian besar penantang utamanya adalah mantan sekutu atau tokoh militer yang tetap mendukung kebijakan keras terhadap Palestina, namun muak dengan gaya kepemimpinan pribadinya yang penuh drama dan skandal.
Fenomena ini mengingatkan pada ucapan Margaret Thatcher tentang bagaimana warisan terbesarnya adalah perubahan arah politik lawan-lawannya. Dalam konteks ini, warisan abadi Netanyahu adalah telah berhasil mengubah lanskap politik Israel sedemikian rupa sehingga siapa pun yang menggantikannya kemungkinan besar akan tetap menjalankan kebijakan garis keras yang sama. Sang perdana menteri mungkin akan pergi, tetapi "semangat" politik yang ia tanamkan telah menjadi standar baru yang berbahaya bagi masa depan kawasan.