Mitos Militer Runtuh, Fasisme Menjalar: Bagaimana Tragedi 7 Oktober Mengubah Wajah Israel Menjadi Lebih Brutal
Tiga tahun pasca-peristiwa berdarah 7 Oktober 2023, masyarakat Israel mengalami pergeseran psikologis dan politik yang radikal. Dipicu oleh rasa takut yang dieksploitasi oleh elite politik, negara ini kini terperosok ke dalam gelombang ultranasionalisme ekstrem, di mana seruan pembunuhan massal dan pembersihan etnis warga Palestina tidak lagi dianggap tabu, melainkan menjadi narasi mainstream yang dinormalisasi.
NEWSJABAR.ID - Tragedi 7 Oktober 2023 telah membelah sejarah modern Israel menjadi dua era yang sangat kontras: masa sebelum serangan dan masa kegelapan setelahnya. Dalam tiga tahun sejak serangan tersebut memicu perang genosida di Jalur Gaza, struktur sosial dan politik Israel telah berubah secara fundamental. Rasa trauma kolektif yang mendalam sengaja dipelihara dan diperbesar melalui retorika politik agresif serta histeria media ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern negara tersebut.
Runtuhnya Mitos Militer yang Tak Terkalahkan
Sebelum peristiwa tersebut terjadi, mayoritas warga Israel hidup dalam ilusi kenyamanan yang ditopang oleh keyakinan mutlak atas keunggulan teknologi dan militer mereka. Namun, infiltrasi berskala besar yang menewaskan hampir 1.200 orang dan penawanan sekitar 250 lainnya seketika menghancurkan mitos invinsibilitas militer tersebut. Guncangan ini diperparah oleh kenyataan bahwa sistem pertahanan canggih mereka gagal total, memicu kepanikan massal dan krisis kepercayaan yang mendalam terhadap pemerintah.
Ketakutan ini kemudian dieksploitasi secara sistematis oleh para pemimpin politik untuk membenarkan tindakan brutal di Gaza dan memperluas konflik gaza ke wilayah regional yang lebih luas. Melalui narasi ancaman eksistensial, ketakutan warga sipil diubah menjadi bahan bakar politik untuk melegitimasi kekerasan ekstrem.
Pergeseran Ekstrem ke Arah Fasisme dan Sayap Kanan
Sosiolog dan pengamat politik mencatat adanya pergeseran luar biasa dalam lanskap politik internasional dan domestik Israel. Berbagai jajak pendapat menunjukkan bahwa spektrum politik negara tersebut kini bergeser jauh ke arah sayap kanan ekstrem. Kelompok sayap kiri, yang secara historis menjadi pilar kampanye solusi dua negara (two-state solution), kini hampir punah dan kehilangan relevansinya di mata publik.
Lebih mengerikan lagi, pandangan-pandangan fasistik kini telah dinormalisasi di ruang publik. Sebuah survei akademis mengungkapkan mayoritas responden Israel kini mendukung pengusiran paksa warga Gaza secara massal. Bahkan, sebagian dari mereka secara terbuka mendukung pembunuhan massal terhadap seluruh penduduk di kota-kota Palestina yang diinvasi oleh militer, merujuk pada narasi penghancuran kuno yang kejam.
Para pejabat tinggi pemerintah, termasuk Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir, tanpa ragu membagikan ribuan senjata otomatis kepada kelompok pemukim ilegal di Tepi Barat. Retorika dehumanisasi, seperti menyebut warga Palestina sebagai "hewan manusia", kini menjadi konsumsi sehari-hari yang memicu gelombang kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia yang semakin brutal.
Apartheid yang Semakin Terbuka dan Brutal
Bagi warga Palestina, represi ini bukanlah hal baru, melainkan kelanjutan dari tragedi Nakba tahun 1948. Namun, pasca-7 Oktober, intensitas kekerasan ini meningkat berkali-kali lipat. Berbagai lembaga hak asasi manusia internasional mendokumentasikan bagaimana infrastruktur apartheid, pengusiran paksa, dan penghancuran desa-desa Palestina kini berjalan secara terang-terangan tanpa adanya upaya hukum untuk menghentikannya.
Di bawah bayang-bayang perang gaza, aliansi tak tertulis antara militer Israel dan kelompok pemukim radikal telah menciptakan teror nyata di Tepi Barat. Lebih dari seribu warga Palestina tewas dalam apa yang disebut sebagai proyek sistematis untuk melenyapkan eksistensi kolektif warga Palestina. Normalisasi kekerasan ini tidak hanya mengisolasi Israel di panggung global, tetapi juga menandai kemunduran moral terdalam yang sulit untuk dipulihkan dalam beberapa generasi mendatang.